Scroll untuk baca artikel
Advertorial

Bermula dari Alat Transportasi, Pacu Sampan Leper Kini Jadi Event Wisata di Inhil

×

Bermula dari Alat Transportasi, Pacu Sampan Leper Kini Jadi Event Wisata di Inhil

Sebarkan artikel ini

INHIL – Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau memiliki atraksi budaya yang unik. Namanya Pacu Sampan Leper. Pacu Sampan Leper ini dilaksanakan setiap tahun di Sungai Indragiri tepatnya di Sungai Luar, Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan.

Sampan Leper adalah sampan yang dikendarai ketika sungai air surut. Sampan ini dikendarai di atas lumpur, di pinggiran sungai yang surut, memakai dayung panjang dari kayu.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Junaidy, S.Sos., M.Si mengatakan, pada zaman dulu Sampan Leper adalah merupakan alat transportasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyeberang saat sungai tengah dalam kondisi surut.

Sampan Leper itu dulunya, kata Junaidy, di kawasan Pekan Arba merupakan tempat rekreasi bagi mayarakat Kota Tembilahan, karena lokasinya ini berdekatan dengan Kota Tembilahan. Kawasan ini terdapat di pinggir Sungai Batang Sebatu yang dari tahun ke tahun mengalami pendangkalan dan mengakibatkan hubungan transportasi antara Pekan Arba dengan desa-desa seberangnya menjadi sulit.

Karena sulitnya hubungan ini, maka masyarakat berusaha mengatasinya dengan membuat sampan atau perahu yang berbentuk leper atau rata di bagian bawahnya dan dapat berjalan serta meluncur di pantai lumpur maupun di atas air, sehingga sampai sekarang dijadikan sebagai alat transportasi.

Sampan Leper ini merupakan perahu yang memiliki ukuran 1 x 3 meter dengan lantai dasar yang memiliki permukaan pipih dan datar. Hal itu sebagai penyesuaian agar dapat digunakan di atas air maupun lumpur.

“Umumnya mendayung sampan di atas air, kalau Sampan Leper di atas lumpur. Tentu banyak memerlukan tenaga yang dikuras habis, tapi inilah menjadi keunikan tersendiri,” ujar Junaidy.

Karena memiliki keunikan, Sampan Leper ini akhirnya dijadikan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) sebagai sebuah event. Tujuannya, tentu agar menarik wisatawan. Tak hanya di kabupaten saja, melainkan juga di luar kota hingga ke luar provinsi.

Pacu Sampan Leper dahulunya sering digelar di Pekan Arba, Kecamatan Tembilahan. Namun karena terjadi pendangkalan Sungai Batang Tuaka, maka pemerintah setempat memindahkan event ini di Kawasan Wisata Kuala Getek, Sungai Luar, Kecamatan Batang Tuaka.

Lomba pacu Sampan Leper ini hampir sama dengan lomba berenang. Ada berbagai gaya. Ada gaya duduk, gaya samping, gaya jongkok, dan adapula gaya dorong belakang. Pesertanya ada putra, ada putri, dan ada pula yang double serta double campuran.

Sebenarnya dalam menentukan pelaksanaan pacu Sampan Leper ini tak mudah karena harus berdasarkan perhitungan alam, yang tidak dapat diadakan sesuai keinginan, yakni melihat kondisi pasang surut air di Sungai Indragiri. Pacu sampan leper ini hanya bisa dilakukan antara bulan Juli sampai dengan bulan Agustus yakni pada saat kondisi air sedang surut.

Perlombaan ini bukan main serunya. Sebab bukan saja ketangkasan para pemacu yang menjadi daya tariknya, tetapi juga peserta yang kurang terlatih berkayuh atau berpacu, bukan sekali-dua kali tersungkur ke dalam lumpur. Apabila mereka jatuh, sorak sorai dari penonton pun makin berkepanjangan.

Festival ini ditonton ribuan pengunjung setiap tahunnya. Sedangkan untuk peserta yang menjadi juara diberi hadiah hingga puluhan juta rupiah.

Pacu sampan leper merupakan suatu objek wisata tahunan Kabupaten Inhil, dan merupakan perlombaan yang langka di dunia, karena arena yang digunakan permukaan lumpur bukan di atas permukaan air.

Hingga saat ini event pacu Sampan Leper masih tetap terjaga dan terus dikembangkan oleh Pemkab Inhil melalui Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Kebudayaan. Dengan harapan event ini bisa menjadi salah satu pilihan destinasi wisatawan.